Menyesap Kedamaian di Nagari Pariangan: Desa Purba Terindah di Lereng Marapi

Ada tempat-tempat di dunia ini yang ketika kita mengunjunginya, rasanya seperti melangkah masuk ke dalam sebuah kartu pos tua yang hidup. Nagari Pariangan adalah salah satunya. Tersembunyi di lereng sejuk Gunung Marapi, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, desa ini menawarkan lebih dari sekadar pemandangan dimana desa ini menawarkan sebuah perjalanan rasa.

Jauh dari klakson kota dan notifikasi ponsel yang tak henti berdering, Pariangan menyambut setiap tamunya dengan bahasa universal: kedamaian. Tidak mengherankan jika media perjalanan internasional Travel Budget dari Amerika Serikat pernah menobatkannya sebagai salah satu desa terindah di dunia, bersanding dengan desa-desa cantik di Eropa. Namun, kecantikan Pariangan bukanlah jenis kecantikan yang dipoles, melainkan kecantikan yang lahir dari usia dan keaslian yang bersahaja.

Sebuah Lorong Waktu ke Masa Lalu Minangkabau

Perjalanan menuju Pariangan, yang berjarak sekitar 15 kilometer dari kota Batusangkar, adalah sebuah pengantar yang sempurna. Jalanan berkelok membelah hamparan sawah bertingkat yang hijau royo-royo, dengan latar gunung berapi yang gagah. Udara terasa semakin segar dan sejuk di kulit saat ketinggian bertambah.

Memasuki gerbang nagari, kita seolah ditarik mundur ratusan tahun ke belakang. Pariangan diyakini oleh masyarakat setempat sebagai nagari tertua di ranah Minang, tempat di mana nenek moyang orang Minangkabau pertama kali bermukim setelah turun dari Gunung Marapi. Keyakinan ini terasa hidup dalam setiap sudut desa.

Deretan Rumah Gadang tua menyambut di kiri-kanan jalan desa yang menanjak. Tidak seperti Rumah Gadang modern yang penuh ukiran warna-warni mencolok, rumah-rumah di sini memancarkan aura sepuh. Dinding kayunya yang berwarna cokelat gelap telah dimakan cuaca, atap ijuknya ditumbuhi lumut hijau tipis, namun struktur mereka tetap berdiri kokoh dan anggun. Mereka adalah saksi bisu dari generasi ke generasi yang telah lahir, hidup, dan tiada di tanah ini.

Keindahan Pariangan terletak pada keasliannya. Rumah-rumah Gadang tua dan Masjid di sini memancarkan aura sejarah yang kental, jauh dari kesan artifisial.

Berjalan kaki menyusuri jalan setapak desa adalah cara terbaik menikmati Pariangan. Sapaan ramah “Pagi, Pak/Bu” dari penduduk lokal yang sedang menjemur hasil bumi atau duduk di kedai kopi sederhana akan sering terdengar. Ini adalah jenis keramahan yang tulus, yang membuat siapa pun merasa diterima.

Di tengah desa, berdiri sebuah masjid yang unik, Masjid Al-Ishlah. Arsitekturnya tidak seperti masjid pada umumnya di Sumatera Barat. Atapnya tumpang tiga mirip pura di Bali atau masjid tua di Jawa, namun dengan sentuhan puncak gonjong di bagian mihrabnya. Di depannya, terdapat kolam air panas alami komunal yang masih digunakan warga untuk mandi dan bersuci—sebuah harmoni sempurna antara kebutuhan sehari-hari dan anugerah alam.

Simfoni Alam dan Budaya

Keindahan Pariangan mencapai puncaknya saat kita mendaki sedikit ke titik pandang (viewpoint) di bagian atas desa. Dari sini, seluruh lanskap terhampar bagaikan sebuah amfiteater raksasa. Atap-atap gonjong yang melengkung terlihat menyembul di antara rimbunnya pohon kelapa dan hijaunya petak-petak sawah yang tersusun rapi menuruni lembah.

Suasananya begitu tenang. Suara yang dominan hanyalah gemericik air irigasi yang mengalir jernih di selokan desa, desau angin pegunungan yang menerpa daun padi, dan sesekali kokok ayam jantan. Duduk diam di sini sambil menyesap segelas kopi kawa daun (kopi dari daun kopi) hangat adalah sebuah kemewahan sederhana yang sulit dicari tandingannya.

Kehidupan di Pariangan berjalan selaras dengan alam. Sawah berundak yang subur adalah jantung kehidupan masyarakat agraris di sini.

Nagari Pariangan bukan sekadar destinasi untuk berburu foto instagrammable. Ia adalah sebuah oase. Tempat di mana kita bisa sejenak melepaskan beban modernitas, menghirup udara pegunungan dalam-dalam, dan kembali terhubung dengan akar kehidupan yang sederhana namun kaya makna. Sebuah pengingat bahwa kadang, kebahagiaan justru ditemukan di tempat-tempat yang paling sunyi.


Sekilas Info Praktis

Akses: Pariangan paling mudah dicapai dengan kendaraan pribadi (mobil/motor) dari Batusangkar (sekitar 30 menit) atau Bukittinggi (sekitar 1 jam). Jalanannya beraspal baik meski berkelok dan menanjak.

Waktu Terbaik: Pagi hari (sebelum pukul 10.00) atau sore hari (setelah pukul 15.00) adalah waktu terbaik untuk mendapatkan cahaya matahari yang lembut dan menghindari terik siang hari.

Fasilitas: Sudah tersedia beberapa homestay sederhana milik warga bagi yang ingin menginap dan merasakan suasana malam pedesaan. Kedai kopi dan warung makan kecil juga tersedia di sekitar area desa.

Categories: Sumatera Barat
X