Monumen Sejarah Kereta Api Pekanbaru Lokomotif C3322 di Simpang Tiga
·

Sejarah Kereta Api Maut Pekanbaru: Jejak Rel Mati dan Tragedi Romusha (1943-1945)

Di bawah terik matahari garis khatulistiwa, di persimpangan Jalan Kaharuddin Nasution yang sibuk menuju Bandara Sultan Syarif Kasim II, sebuah lokomotif uap hitam legam berdiri mematung. Bagi ribuan pelintas yang terburu-buru setiap hari di Pekanbaru, besi tua itu mungkin tak lebih dari sekadar penanda jalan usang atau objek foto sepintas lalu.

Namun, jika besi-besi berkarat itu diberi nyawa untuk berbicara, mereka akan menjeritkan kisah yang selama ini terkubur di tanah Riau. Kisah tentang hutan tropis perawan yang dibelah paksa, tentang rawa-rawa gambut yang menelan ribuan tubuh kurus tak bernama, dan tentang ambisi perang kekaisaran yang dibayar lunas dengan nyawa bangsa terjajah.

Inilah narasi lengkap tentang Jalur Kereta Api Muaro Sijunjung – Pekanbaru. Sebuah proyek ambisius Kekaisaran Jepang sepanjang 220 kilometer yang dibangun bukan dengan mesin-mesin canggih abad ke-20, melainkan di atas fondasi darah, keringat, dan air mata lebih dari seratus ribu manusia. Dunia internasional kerap menjulukinya sebagai “The Forgotten Railway”—rel yang terlupakan. Namun bagi kita, sejarahnya terlalu pedih untuk dibiarkan hilang ditelan zaman.

Tekanan Perang dan “Jalan Tikus” Sumatera

Sisa jejak lokomotif
Sisa jejak lokomotif yang tersisa

Kisah tragis ini bermula dari keputusasaan strategis di tengah Perang Pasifik tahun 1942. Kala itu, balatentara Jepang telah menguasai Asia Tenggara. Mesin perang mereka yang berbasis di Singapura dan Malaya sangat haus akan energi. Mereka membutuhkan batubara berkualitas tinggi untuk menggerakkan kapal dan industri perang. Sumber terbaik “emas hitam” itu terkunci jauh di pedalaman Sumatera Barat, di Tambang Ombilin, Sawahlunto.

Jepang menghadapi jalan buntu. Jalur laut konvensional untuk mengangkut batubara dari Pelabuhan Teluk Bayur (Padang) memutari Pulau Sumatera menuju Singapura adalah misi bunuh diri. Di perairan Samudra Hindia yang ganas dan Selat Malaka bagian selatan, kapal-kapal selam Sekutu (Inggris dan Belanda) berpatroli secara agresif. Kapal kargo Jepang yang lambat adalah sasaran empuk bagi torpedo mereka.

Terdesak oleh blokade laut, Tokyo mengambil keputusan ekstrem: Membangun “jalan tikus” darat. Mereka merancang jalur kereta api lintas Sumatera yang memotong punggung tengah pulau itu. Rencananya adalah menghubungkan rel yang sudah ada di Muaro Kalaban dan Muaro Sijunjung (Sumbar), menembus hutan belantara yang belum terjamah manusia, dan berakhir di pelabuhan sungai di Pekanbaru (Riau). Dari Pekanbaru, batubara bisa diangkut dengan tongkang menyusuri Sungai Siak yang tenang menuju Selat Malaka yang lebih sempit dan aman untuk menyeberang ke Singapura.

Anatomi Rute: Menelusuri Kamp-Kamp Maut di Tengah Hutan

Proyek sepanjang 220 kilometer ini adalah mimpi buruk logistik. Berdasarkan arsip peta rute dan catatan sejarah, jalur ini tidak hanya sekadar rel lurus, melainkan serangkaian kamp kerja paksa yang dibangun di tengah hutan belantara. Setiap titik pemberhentian adalah saksi bisu penderitaan yang berbeda.

Peta Rute dan Lokasi Kamp Kereta Api Muaro Sijunjung ke Pekanbaru
Ilustrasi Peta rute sepanjang 220 km menunjukkan lokasi kamp-kamp (Camp) di sepanjang jalur yang membelah bukit dan rawa. Berdasarkan Peta Henk Hovinga.

Lokasi kamp/ stasiun menggunakan nama kampung, (desa) mereka saat ini adalah:

  • 1 Tanjung Rhu, Pekanbaru
  • 2 Tangkerang Tengah, Pekanbaru
  • 2A Simpang Tiga (atau sangat dekat dengan)
  • 3 Kampung Petas
  • 3A Kubang
  • 4 Sungai Kampar Kanan (South Bank)
  • 5 Lubuk Sakit
  • 6 Sungai Pagar
  • 7 Lipat Kain (Sungai Kampar Kiri Selatan)
  • 7A Lipat Kain (Tepi Sungai Kampar Kiri Utara)
  • 8 Kota Baru
  • 9 Logas Desa
  • 10 Kota Kombu
  • 11 Padang Torok
  • 12 Silukah
  • 13 Muaro
  • 14 Tambang Batubara
  • 14A Petai

Mari kita telusuri perjalanan maut ini, dari titik nol di Sumatera Barat hingga ke ujung rel di Riau, berdasarkan lokasi kamp dan stasiun yang tercatat di peta sejarah:

Sektor 1: Gerbang Perbukitan (Muaro – Lubuk Ambacang)

Perjalanan dimulai dari titik percabangan dengan jalur Belanda yang sudah ada.

  • Muaro (Camp 13): Titik nol kilometer pembangunan jalur baru. Di sinilah logistik dan pekerja dikumpulkan sebelum dikirim masuk ke hutan.
  • Padang Sibusuk & Tanjung Ampalu: Jalur mulai menembus topografi Bukit Barisan yang bergelombang kasar. Di sektor ini, pekerja paksa harus membelah bukit batu cadas dengan peralatan seadanya—cangkul dan linggis—serta membangun jembatan-jembatan tinggi yang berbahaya.
  • Palukahan & Silukah: Semakin dalam memasuki area perbukitan yang terisolasi.

Sektor 2: Jantung “Neraka Hijau” (Logas – Lipat Kain)

Inilah sektor yang paling ditakuti, kawasan hutan hujan tropis primer yang lebat dan lembap, dikenal oleh para tawanan sebagai “Neraka Hijau”.

  • Lubuk Ambacang (Camp 10): Kamp besar yang terletak strategis di tepi Sungai Kuantan. Di sini pernah berdiri jembatan kayu rel kereta api yang tinggi melintasi sungai lebar. Kamp ini juga menjadi titik transit penting bagi pekerja yang diangkut lewat sungai.
  • Logas (Camp 9): Salah satu kamp kerja terberat yang terkenal dengan kondisi sanitasi yang buruk dan tingkat kematian tinggi akibat malaria dan disentri.
  • Sungai Bawang & Koto Baru: Pos-pos kecil di tengah rimba raya yang menghubungkan Logas dengan Lipat Kain.
  • Lipat Kain (Camp 7): Menjadi pusat bengkel kereta (railhead) di tengah jalur. Di sinilah Jepang membangun fasilitas perbaikan lokomotif darurat dan gudang logistik di tengah hutan.

Sektor 3: Tantangan Rawa Gambut (Teratak Buluh – Pekanbaru)

Mendekati Pekanbaru, tantangan alam berubah drastis dari bukit batu menjadi rawa gambut yang labil dan mematikan.

  • Danau Bingkuang & Teratak Buluh (Camp 4): Memasuki area rawa-rawa. Di sini, tanah keras menghilang, berganti menjadi lumpur gambut sedalam meteran yang tidak mungkin menahan beban lokomotif.
  • Tantangan “Corduroy”: Untuk mengatasi rawa ini, insinyur Jepang menerapkan teknik jalan “Corduroy”. Ribuan batang pohon besar ditebang, disusun melintang di atas lumpur rawa, lapis demi lapis, membentuk rakit raksasa. Tumpukan kayu itu kemudian ditimbun tanah, dan di atasnya diletakkan bantalan rel. Kereta api Pekanbaru secara harfiah dirancang untuk “mengapung” di atas tumpukan kayu. Banyak kesaksian menyebutkan pekerja yang kelelahan jatuh dan tertimbun hidup-hidup di dalam lumpur fondasi ini.

Sektor 4: Terminal Akhir (Simpang Tiga – Pekanbaru)

  • Simpang Tiga / Kampung Petas (Camp 2 & Camp 3): Kamp induk besar di pinggiran Pekanbaru. Area ini berfungsi sebagai markas komando, rumah sakit darurat kamp (yang kondisinya mengerikan), dan lokasi pembangunan landasan udara (airfield) yang kini menjadi Bandara Sultan Syarif Kasim II. Di area inilah Monumen Lokomotif dan Makam Pahlawan Kerja berada saat ini.
  • Pekanbaru / Tepi Sungai Siak (Camp 1): Titik akhir jalur rel. Berfungsi sebagai pelabuhan sungai tempat batubara (jika jadi diangkut) akan dipindahkan ke tongkang untuk berlayar ke Selat Malaka.

Besi Tua dan Manusia yang Diperbudak

Ironisnya, untuk proyek yang dianggap begitu vital ini, Jepang tidak memiliki material baru. Rel-rel yang dipasang di hutan Riau adalah besi tua hasil jarahan. Bukti fisik di lapangan yang ditemukan peneliti menunjukkan rel dengan cap tahun pembuatan 1889, 1891, dan 1913 dari pabrik Krupp (Jerman). Besi-besi ini dicabut paksa oleh tentara Jepang dari jalur lain di Sumatera Utara (Deli Spoorweg) dan Jawa, lalu diangkut ke Riau untuk dipasang kembali.

Lokomotif yang digunakan pun adalah armada tua yang sudah seharusnya masuk museum, seperti Seri C33 (yang kini jadi monumen di Simpang Tiga) dan Seri C54 yang lebih besar. Monster-monster tua ini berbahan bakar kayu. Para tawanan perang dipaksa menebang pohon karet setiap hari dengan target ketat, hanya untuk memberi makan ketel uap lokomotif yang boros ini agar tetap bisa bergerak menyeret material konstruksi.

Di balik mesin-mesin tua itu, tersembunyi kisah penderitaan manusia dalam skala yang sulit dibayangkan akal sehat.

Tumbal Bernama Romusha

Pembangunan ini adalah kisah tentang mobilisasi manusia dalam skala yang mengerikan. Kelompok terbesar adalah bangsa kita sendiri: Romusha. Palang Merah Internasional memperkirakan sekitar 100.000 tenaga kerja Indonesia didatangkan, mayoritas dari Pulau Jawa yang padat penduduk.

Mereka adalah korban propaganda keji. Jepang menyebut mereka dengan istilah terhormat “Prajurit Ekonomi”, dijanjikan upah layak dan kesempatan melihat daerah baru. Nyatanya, setibanya di Riau, mereka diperlakukan lebih rendah dari hewan beban. Tanpa barak yang layak, tanpa makanan cukup, dan tanpa obat-obatan, mereka dipaksa bekerja 14 jam sehari di bawah todongan bayonet penjaga Korea dan Jepang. Ribuan tewas akibat wabah malaria, disentri, beri-beri (kurang gizi akut), dan kelelahan ekstrem. Jenazah mereka seringkali hanya dikuburkan di lubang-lubang dangkal di tepi rel di tengah hutan, tanpa penanda, hilang ditelan zaman.

Para tahanan perang sekutu di Kereta Api pekanbaru
Para tahanan perang sekutu dipembangunan Kereta Api Pekanbaru. Sumber: pekanbarudeathrailway

Selain Romusha, arsip sejarah juga membuktikan keterlibatan sekitar 5.000 Tahanan Perang Sekutu (POW). Mereka terdiri dari tentara Belanda (KNIL), Inggris, Australia, Amerika, dan Selandia Baru yang ditangkap saat Hindia Belanda jatuh. Para POW ini ditempatkan di kamp-kamp kerja terberat seperti di Logas dan Petai, dipaksa membangun jembatan kayu tinggi melintasi lembah sungai dengan peralatan primitif.

Cahaya dan Kegelapan di Kamp Hutan

Di tengah kekejaman kamp yang sistematis, terselip kisah-kisah kecil yang luar biasa. Salah satunya adalah tentang Judy, seekor anjing jenis English Pointer. Judy adalah maskot kapal perang Inggris yang karam dan ikut ditangkap Jepang bersama para pelautnya. Hebatnya, berkat lobi para tawanan yang mencintainya, Judy secara resmi terdaftar oleh komandan kamp Jepang sebagai Tawanan Perang dengan nomor registrasi POW81A. Judy menjadi “malaikat pelindung” di kamp Sumatera; ia memiliki insting tajam untuk mendeteksi kedatangan penjaga yang kejam dan memberi peringatan kepada para tawanan.

Namun, realitas kematian tetaplah dominan. Tragedi rel ini bahkan dimulai sebelum pekerja tiba di Riau. Pada 18 September 1944, kapal Junyo Maru yang mengangkut ribuan calon pekerja (POW & Romusha) menuju Pekanbaru ditorpedo oleh kapal selam Inggris di lepas pantai Bengkulu. Lebih dari 5.620 orang tewas tenggelam. Sedikit korban yang selamat dari laut, langsung dikirim ke Riau untuk menghadapi maut kedua di tengah hutan.

Kesaksian paling memilukan tentang kondisi di Pekanbaru datang dari George Duffy, seorang pelaut Merchant Marine asal Amerika Serikat yang selamat. Dalam memoarnya, Duffy menggambarkan bagaimana kematian di Sumatera tidak datang dengan cepat seperti peluru, melainkan perlahan dan menyiksa.

“Tidak ada upacara pemakaman. Kematian di Sumatera jarang datang seperti petir yang menyambar. Ia datang perlahan dan tak terelakkan merayap di ‘rumah sakit’ kamp… Orang-orang yang mati tahu itu akan datang, dan tidak ada yang bisa mencegahnya.” — tulis George Duffy.

Duffy mencatat bahwa usia rata-rata dari ratusan orang yang tewas di sekitarnya di kamp hanyalah 37 tahun. Mereka mati karena pengabaian yang disengaja.

Ironi Paku Emas Terakhir

Puncak dari segala penderitaan ini adalah sebuah ironi sejarah yang luar biasa pahit. Setelah dua tahun pembangunan yang menelan korban jiwa tak terhitung, “Paku Emas” (Golden Spike) terakhir ditancapkan di dekat Camp 10 di tengah hutan pada tanggal 15 Agustus 1945. Rel dari Muaro akhirnya tersambung utuh hingga ke Pekanbaru.

Namun, sejarah memiliki selera humor yang kejam. Tepat di hari yang sama, ribuan kilometer jauhnya di Tokyo, Kaisar Hirohito mengumumkan penyerahan Jepang kepada Sekutu setelah bom atom dijatuhkan.

Perang berakhir tepat pada hari rel kereta api itu selesai.

Akibatnya, jalur kereta api sepanjang 220 km yang dibangun dengan harga nyawa yang begitu mahal ini, tidak pernah sekalipun digunakan untuk mengangkut batubara perang sesuai tujuan awalnya.

Satu-satunya fungsi operasional rel ini terjadi beberapa minggu setelah perang usai, ketika pasukan Sekutu memanfaatkannya untuk mengevakuasi tawanan perang yang sakit dan sekarat dari kamp-kamp di tengah hutan (“Jungle Camps”) menuju Pekanbaru untuk mendapatkan perawatan medis sebelum dipulangkan. Setelah misi evakuasi selesai, rel tersebut ditinggalkan. Pada tahun-tahun berikutnya, di masa pergolakan kemerdekaan, banyak besi rel dipotong dan dijarah oleh penduduk untuk kebutuhan lain, hingga jejak fisiknya nyaris musnah dari muka bumi Sumatera.

Menolak Lupa di Tanah Riau

Tugu romusha Pahlawan Kerja

Hari ini, di Pekanbaru modern, jejak fisik sejarah kelam itu memang nyaris sirna. Namun, ingatan tentangnya tidak boleh ikut terkubur di bawah aspal jalan raya.

Jika Anda mengunjungi kawasan Simpang Tiga, berhentilah sejenak di depan Monumen Lokomotif C3322 di Jalan Kaharuddin Nasution. Pandanglah roda-roda besinya yang berkarat; bayangkan roda itu dulu pernah terseok-seok membelah hutan Logas dan mengapung di atas rawa Teratak Buluh, ditarik oleh penderitaan ribuan manusia.

Lalu, berjalanlah sedikit ke area belakangnya, memasuki gerbang Makam Pahlawan Kerja. Area ini adalah pusara simbolis, sebuah “tanda ingat” bagi ribuan jiwa Romusha yang jasadnya tak pernah benar-benar kembali. Tulang belulang mereka sesungguhnya masih berserak, menyatu dengan tanah di sepanjang 220 kilometer hutan Logas, lembah Petai, hingga rawa Teratak Buluh. Di makam inilah kita secara kolektif menundukkan kepala, memberikan penghormatan terakhir bagi leluhur yang ditipu, diperbudak, dan dibuang tanpa nama demi ambisi perang bangsa lain.

Mengunjungi situs ini bukan sekadar wisata sejarah. Ini adalah sebuah ziarah kebangsaan. Sebuah pernyataan sikap untuk menolak lupa, bahwa tanah Riau yang kini maju, pernah menjadi saksi bisu pengorbanan yang tak terperi harganya.

Makam Pahlawan Kerja Pekanbaru Romusha di Simpang Tiga

Pertanyaan Umum (FAQ) seputar Sejarah Rel Pekanbaru

Dimana letak Monumen Kereta Api Pekanbaru? Monumen Lokomotif C3322 terletak di Jalan Kaharuddin Nasution, Simpang Tiga, dekat dengan Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru.

Berapa panjang jalur kereta api Muaro – Pekanbaru? Jalur ini memiliki panjang sekitar 220 kilometer, membentang dari Muaro Sijunjung (Sumbar) hingga ke tepi Sungai Siak di Pekanbaru (Riau).

Siapa yang membangun rel kereta api Pekanbaru dan berapa korbannya? Rel ini dibangun oleh tentara Jepang menggunakan tenaga kerja paksa Romusha Indonesia (estimasi ±100.000 orang) dan Tahanan Perang Sekutu/POW (±5.000 orang) pada tahun 1943-1945. Ribuan di antaranya tewas selama konstruksi.


Referensi dan Sumber Pustaka

Narasi sejarah ini disusun berdasarkan riset dari berbagai sumber terpercaya dan arsip digital:

  1. Pekanbaru Death Railway (Digital Archive). Situs arsip terlengkap yang dikelola oleh keluarga penyintas. Kunjungi Website
  2. Wikipedia Bahasa Indonesia. Jalur kereta api Muaro Kalaban–Muaro–Pekanbaru. Baca di Wikipedia
  3. Hovinga, Henk. (2010). The Sumatra Railroad. KITLV Press. Buku otoritatif dari penyintas Belanda. Lihat Pratinjau Google Books
  4. Duffy, George. Life and Death on the Death Railway. Memoar tawanan perang Amerika yang selamat. Baca Kisah Duffy
  5. Australian War Memorial (AWM). Arsip foto asli kondisi kamp POW di Riau tahun 1945. Telusuri Arsip AWM
  6. COFEPOW (Children of Far East Prisoners of War). Riset untuk sejarah jalur Sumatera. Kunjungi COFEPOW
  7. Weintraub, Robert. No Better Friend. Buku yang mengisahkan Judy, satu-satunya anjing POW di Sumatera.

Catatan Editor: Artikel ini diperbarui pada November 2025 sebagai dedikasi Liga-Indonesia.co.id untuk melestarikan narasi sejarah “The Forgotten Railway” di Sumatera agar tidak hilang ditelan zaman.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *